Keterampilan Interpersonale

Keterampilan Interpersonale

Sabtu, 26 November 2011

Alangkah lucunya negeri ini


Mengambil Hikmah dari Film

 “Alangkah Lucunya(Negeri ini) “

 

Pesan apa yang kita dapatkan setelah menonton film komedi? pasti membuat kita terpingkal-pingkal. Namun pernahkah terlintas dibenak kita, bahwa kita semua membutuhkan film yang berkualitas yaitu yang berisi pesan moral untuk penontonnya. Nah, salah satu film karya anak bangsa yang dapat saya rekomendasikan ke Anda, Alangkah Lucunya (negeri ini) yang diangkat dari sebuah buku karya Musfar Yasin dan dikemas  dalam sebuah film yang cantik oleh Deddy Mizwar. Film ini dirilis pada tahun 2010 dan diproduksi oleh Amiruddin/Citra Sinema. Sebuah film yang mengangkat permasalahan mendasar bangsa ini dengan mengedepankan konflik batin yang terjadi yaitu pendidikan dan kemiskinan. Film ini semakin menarik dengan diperankan oleh artis ibukota yang sudah dikenal publik antara lain Reza Rahadian, Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting, Sonia, Teuku Edwin, serta Dedy Mizwar. Film ini berceritakan sederhana yang tanpa sadar sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari tentang nasib para anak-anak jalanan yang  jadi tanggung jawab bagi kita semua.
 Alur cerita film ini adalah si Mumuk (diperankan oleh Reza Rahadian) seorang pemuda lulusan S1 yang pengangguran melihat aksi pencopetan. Lambat laun Mumuk bekerjasama dengan mereka untuk memperbaiki manajemen sekumpulan pencopet dengan mengumpulkan 10% dari hasil copet untuk diputar dan ditabung. Namun diakhir cerita Mumun dengan dibantu Syamsul (diperankan oleh Asrul Dahlan) dan  Pipit (diperankan oleh Tika Bravani) berniat untuk merubah anak-anak yang berprofesi mencopet menjadi pedagang asongan. Namun tidak semudah itu mereka mengubah pencopet menjadi bocah yang kembali ke jalan yang benar, setiap adegan terdapat celetukan bocah pencopet bahkan puncaknya pro contra dengan ketiga ayahanda Mumuk dan temannya.
Melalui film Alangkah Lucunya (Negeri ini), kita mendapatkan sebuah pesan moral mengenai pendidikan agama, budi pekerti, kewarganegaraan, politik, sosial, budaya, pendidikan. Meskipun tema film ini  cukup serius, tapi dikemas dengan menyisipkan adegan komedi yang ringan namun tetap berisi pesan-pesan moral sehingga penonton tidak perlu menyimak dengan tatapan tegang atau tampang serius. Selain mengangkat komunitas anak jalanan yang kehidupan sehari-hari melakukan tindak kriminal (pencopetan), film ini juga mengkritik tentang persoalan kemiskinan dan pengangguran. Misalnya saja adegan  anak jalanan yang tidak mempunyai bekal pendidikan dan hidup dalam kondisi miskin, yang pada  akhirnya mencari jalan pintas melakukan pencopetan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Disisi lain film ini juga menampilkan adegan pengangguran intelektual. Mendapatkan pendidikan hingga lulus S1 pun juga belum menjamin suatu keberhasilan atau kenikmatan, kurangnya lowongan kerja yang sempit membuat mereka menjadi  pengangguran. Tokoh Syamsul yang lulus gelar S1 namun kerjaan sehari-hari yang dilakukan sebelum menolong bocah pencopet yaitu hobi bermain gaple’ di pos ronda atau tokoh Pipit yang senang mengikuti kuis di televisi dan undian berhadiah. Bahkan ibunda Pipit (diperankan oleh Rina Hasyim) yang tidak punya pekerjaan selain mengisi TTS dan game.
Aroma politik juga tercuat dalam film ini. Tokoh Jupri yang merupakan pesaing Mumuk untuk memperebutkan wanita idaman ini merupakan seseorang yang mencalonkan dirinya sebagai wakil rakyat. Sebagai calon wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan nasip rakyat namun sibuk urusan sendiri yang konyol. Contoh lain  ketika adegan di akhir cerita, Syamsul yang berteriak-teriak membandingkan koruptor dengan pencopet amatir tiba-tiba dihampiri oleh Jupri dengan diberi kaos bergambar dirinya.
Persoalan kehidupan beragama juga ditonjolkan dalam cerita ini. Misalkan saja adegan ketika Pipit menanyakan agama bocah pencopet namun mereka tidak tahu agamanya dan betapa pentingnya agama buat mereka. Merekapun juga tidak tahu tentang halal atau haram. Contohnya dalam adegan ketika membahas uang haram hasil mencopet. Persoalan halal dan haram juga jadi sangat mendasar setelah melihat kenyataan yang terpampang, apakah boleh menerima uang  dari hasil tindakan yang menurut ajaran agama diharamkan? Namun jika tidak diterima, maka orang tersebut tidak akan dapat hidup dan tidak memperoleh penghasilan. Pertanyaan ini masih  belum terjawab hingga film ini selesai.
Pada akhir film, muncul pernyataan yang bertulisan “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, bunyi pasal 34 UUD 1945 yang merupakan jawaban dari sebuah pertanyaan film tersebut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar